loading...

10 Macam Canang Menurut Agama Hindu


10 MACAM CANANG MENURUT AGAMA HINDU, Upakara dengan kwantitas terkecil yang dikenal dengan istilah kanista atau inti dari Upakara disebut “Canang”, untuk dapat mengambil semerti dari canang dapat diambil dari kata canang, yang berasal dari suku kata “Ca” yang artinya indah, sedangkan suku kata “Nang”, artinya, tujuan yang dimaksud (kamus Kawi-Bali). Dengan demikian maksud dan tujuan canang adalah, sebagai sarana bahasa Weda untuk memohon keindahan (Sundharam) kehadapan Sang Hyang Widhi. Mengenai bentuk dan fungsi canang menurut pandangan ajaran Agama Hindu di Bali memiliki beberapa bentuk dan fungsi sesuai dengan kegiatan upacara yang dilaksanakan. Canang dapat dikatakan sebagai penjabaran dari bahasa Weda melalui simbul-simbulnya yaitu :
  • Canang yang dialas dengan sebuah ceper, adalah sebagai simbul “Ardha Candra”, sedangkan canang yang dialasi dengan sebuah tamas kecil adalah sebagai simbul “Windhu”.
  • Didalam ceper berisi sebuah porosan adalah sebagai simbul **Silih Asih**, dalam arti umat Hindu harus didasari oleh hati yang welas asih kehadapan Sang Hyang Widhi, demikian sebaliknya sebagai anugrah Beliau.
  • Didalam ceper juga berisi jajan, tebu dan pisang, adalah sebagai simbul “Tedong Ongkara”, menjadi perwujudan dari kekuatan, Utpeti, Stiti, Dan Pralina Dalam Kehidupan Di Atom Semesta Ini.
  • Diatas raka-raka tadi disusunkan sebuah sampian Urasari, adalah sebagai simbul kekuatan “Wlndhu* serta ujung-ujung sampian tersebut adalah sebagai simbul “Nadha”.
  • Diatas sampian urasari disusunkan bunga-bunga
Jadi Canang adalah mengandung makna sebagai permohonan umat Hindu kehadapan Sang Hyang Widhi (berwujud Ongkara) bahwa umatnya memohon kekuatan, untuk itu agar Beliau bermanifestasi menjadi kekuatan Ista Dewata. Bentuk dan fungsi memiliki beberapa bentuk dan fungsi, antara lain :

Canang Sari
Canang sari adalah sebuah canang yang alasnya dari sebuah ceper atau tamas kecil, hanya sampian uras sarinya membentuk asthadala sehingga terlihat berbentuk bundar sedangkan isinya seperti yang dijelaskan diatas, yang fungsinya adalah sebagai simbul sarining yadnya, sehingga setiap upakara disertakan dengan canang sari. Disamping canang sari ageng ada juga canang sari alit yaitu hanya mempergunakan empat penjuru pada simbul sampian urasarinya tetapi memiliki prinsip dan kwalitas yang sama. Pada cepernya berisi raka-raka dan porosan, diatasnya dipasangkan sampian urasari, kemudian diatas sampian uras disusunkan bunga putih arah timur, bunga merah dikanan, bunga kuning dibagian barat, bunga biru dikiri, dan kembang rampai ditengah (sesuai Pengideran).

Canang Genten
Pada prinsipnya canang Genten sama dengan canang sari, hanya ditambahkan dengan jajan kekiping, pisang mas dan bubur sesuruh merah dan putih, dan dimasing-masing bubur tersebut dibungkus dengan janur digiling menyerupai sebatang rokok, serta diletakkan dibawah sampian urasari. Fungsi canang ini adalah sebagai sarana untuk memohon anugrah keremajaan atau kayowanan. Oleh karena itu canang Genten dipergunakan pada pelaksanaan Upacara Ngeraja Sewala / Ngeraja Singa, upacara potong gigi dan pada Upacara Perkawinan.

Canang Payasan / Canang Pesucian
Canang pesucian dialasi dengan sebuah Ceper pada bagian pangkalnya, dan diatas taledan ini dijaritkan 5 buah celemik dengan posisi tempatnya, atas, bawah, kanan, kiri, serta ditengahnya, masing-masing celemik berisi sarana sebagai berikut :
  • Pada celemik diatas berisi tepung tawar, adalah sebagai kekuatan Sang Hyang Iswara untuk memohon penyucian mengenai sebel kandel, letuhing jagat dan sarira.
  • Pada celemik dibagian kanan berisi lenga wangi (kapas berisi minyak wangi), adalah simbul kekuatan Sang Hyang Brahma, untuk memohon penyucian kehadapan Beliau mengenai berbagai macam bentuk yang bersifat Wigna.
  • Pada celemik dibagian bawah, berisi daun dadap yang digilas, adalah sebagai simbul kekuatan Sang Hyang Mahadewa, untuk memohon penyucian kehadapan Beliau mengenai segala akibat dari perbuatan Satru (kejahatan).
  • Pada celemik dibagian kiri berisi sisig, adalah sebagai simbul kekuatan Sang Hyang Wisnu, untuk memohon penyucian mengenai gering sasab merana.
  • Pada celemik di Tengah berisi burat wangi, adalah sebagai simbul kekuatan Sang Hyang Siwa, untuk memohon penyucian kehadapan Beliau, mengenai segala kekotoran bathiniah. Canang pesucian ini dipergunakan hampir pada setiap Upakara.
Canang Gantal
Pada perinsipnya canang gantal ini sama dengan canang pesucian hanya pada celemik ditengah diisi base tubungan metungkas, mengenai makna yang terkandung kedalam canang Gantal dapat disimak dari kosakatanya yaitu :
Kata Gantal berasal dari kata “Gana” yang mengandung arti “pertemuan” atau pupulan, sedangkan suku kata “Tal”, dapat diartikan “bersatu” atau terikat menjadi satu. Dengan demikian canang Gantal memiliki makna sebagai permohonan umat kehadapan Sang Hyang Widhi agar dianugrahkan kedamaian.
Canang Gantal terdiri dari dua taledan, taledan pertama berisi seperti yang telah dijelaskan diatas, kemudian diatas taledan pertama disusun lagi dengan taledan kedua yang berisi, raka-raka lengkap, sampian plaus, dan porosan. Diatas taledan dijaritkan dua buah celemik dengan posisi di kanan dan kiri, dan celemik disebelah kanan berisi burst wangi, serta celemik yang disebelah kiri berisi lenga wangi, sedangkan dibagian tengahnya berisi pisang mas, jajan kekiping, 2 buah bantal kecil. Kemudian paling atas disusunkan sebuah canang sari diikat dijadikan satu. Canang gantal dipergunakan pada upakara Panca Yadnya.

Canang Pengerawos
Pembuatan canang pengerawos, pada prinsipnya sama seperti canang Gantal hanya ditengahnya mempergunakan sebuah takir berisi 5 buah lekesan, serta maknanya hampir sama dengan canang Gantal, hanya disini menekankan permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi, khususnya dalam hal memohon kebulatan pendapat berdasarkan ketenangan hati untuk mencapai kedamaian. Lekesan sebanyak 5 buah adalah sebagai simbul dari, Sabda, Bayu, Idep, Rasa dan Cita. Canang pengerawos dipergunakan pada Upakara peparuman, Upakara Pamelastian Bethara, Upakara Piodalan, Upakara Pengajuman.

Canang Tubungan
Pada prinsipnya canang Tubungan sama dengan canang pengerawos hanya Lekesannya satu buah saja, dan mengandung makna sebagai simbul permohonan umat kehadapan Sang Hyang Widhi agar Beliau bermanifestasi sebagai Ista Dewata, dan berstana sesuai dengan fungsinya untuk menganugrahkan suatu kekuatan. Canang Tubungan dipergunakan pada Upakara penuntunan, pemendakan, dan pada upakara pasupati.

Canang Raka
Canang Raka pada prinsipnya sama dengan membuat Canang Sari hanya berisi buah-buahan sebanyak 5 macam buah, dan berisi eteh-eteh pesucian. Canang Raka memiliki makna sebagai simbul memohon pengeleburan Panca Mala baik terhadap Bhuwana Agung maupun terhadap Bhuwana Alit, serta dianugrahkan Panca Amertha yaitu :
  • Amertha Sanjiwani yang disimbulkan dengan pisang kayu (kebiuhdayan) agar umat memiliki sifat bijaksana.
  • Amertha Kamandalu yang disimbulkan dengan buah salak agar selalu dianugrahkan kesehatan phisik, mental, akal dan budhi.
  • Amertha Kundalini yang disimbulkan dengan buah yang berwama kuning seperti mangga, pepaya, dsb, agar dianugrahkan kemakmuran, kesejahteraan dan nutug tuwuh.
  • Amertha Pawitra, yang disimbulkan dengan buah manggis, agar senantiasa memiliki hati yang iklas dan jujur, untuk menuju ketingkat kesucian.
  • Amertha Maha Mertha, yang disimbulkan dengan buah jeruk dengan macamnya (Samagama), agar senantiasa memiliki bathin yang suci untuk menyatu kehadapan Sang Hyang Widhi melalui sembah Bhaktinya.
  • Canang Raka dipergunakan untuk Upakara Panca Yadnya, khususnya pada upakara peperanian, upakara pesimpenan pedagingan, upakara penyejer disaat ada piodalan.
Canang Tadah Sukla
Canang Tadah Sukla pada prinsipnya sama dengan membuat canang Payasan, hanya isi celemiknya yang berbeda, sedangkan pada canang ini isi celemik masing-masing seperti :
  • Celemik pada bagian kiri atas berisi kacang ijo (kacang putih)
  • Celemik pada bagian kanan atas berisi kacang komak atau kacang merah.
  • Celemik pada bagian kiri bawah berisi ubi 5 iris (pala bungkah)
  • Celemik pada bagian kanan bawah berisi keladi 5 iris (pala bungkah)
  • Celemik dibagian tengah berisi kacang botor dan pisang kayu yang mentah sebanyak 5 iris.
Kemudian diatas tetandingan ini disusunkan pesucian dan canang sari diikat dijadikan satu. Mengenai maknanya canang Tadah Sukla memiliki makna sebagai sirabul permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi agar, dianugrahkan kekuatan Iman (Satyam), Kesucian (Siwam), dan kesejahteraan terhadap Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit (Sundharam). Canang ini dipergunakan pada Upakara semua bentuk suci, upakara di Surya, Upakara pebersihan pada pengabenan dan penyekaban.

Canang Pengengkab
Pada prinsipnya pembuatan canang pengengkab sama dengan pembuatan canang payasan, hanya ditengah-ditengahnya berisi dua buah takir dengan posisi tempat kanan dan kiri, yang dikanannya berisi beras kuning dengan satu buah base Tubungan, sedangkan takir yang disebelah kiri berisi air cendana. Canang pengengkab memiliki makna sebagai permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi agar, dianugrahkan kekuatan magis, kawibawaan, (Taksu). Canang ini dipergunakan pada upakara piodalan Gong, Gambang, Gender, Angklung, Wayang, Barong, Topeng, dan tarian sakral lainnya.

Canang Saraswati
Canang Saraswati mempergunakan sebagai alasnya sebuah tamas kecil atau sebuah ceper yang didalamnya berisi, jajan, pisang, tebu, porosan sampian plaus, diletakkan pada bagian hulunya.
Kemudian dipasangkan 5 buah celemik, dengan posisi tempatnya, atas, bawah, kanan, kiri dan di tengah, dan pada setiap celemik berisi jajan suci berwarna putih kuning, yang dialas dengan daun beringin dengan jajan sucinya sebagai berikut :
  • Pada celemik dibagian atas berisi jajan suci Bungan temu putih kuning.
  • Pada celemik dibagian kanan berisi jajan suci kerang putih kuning.
  • Pada celemik dibagian bawah berisi jajan suci Kekuluban putih kuning.
  • Pada celemik dibagian kiri berisi jajan suci Karna putih kuning.
  • Pada celemik dibagian tengah berisi jajan suci Candigara putih kuning.
Diatas tetandingan jajan suci tadi disusunkan lagi sebuah ceper sebagai ceper ke dua yang didalamnya berisi 5 buah celemik dengan posisi tempat atas, bawah, kanan, kiri dan ditengah, serta masing-masing celemik berisi pala bungkah pala gantung (panca) kecuali yang ditengah berisi bubur warna merah dikanan, dan yang putih dikirinya kemudian diatas panca-panca ini disusunkan sebuah ituk-ituk yang berisi eteh-eteh Tetukon (Beras, benang, porosan, wang kepeng belong satu kepeng). Selanjutnya diatas ituk-ituk ini, diisi jajan Saraswati yang dialas dengan sehelai daun beringin, kemudian diatas jajan Saraswati ini ditutupkan dengan sebatang ranting beringin sebagai penjornya, dan diatas jajan saraswati susunkan pesucian serta canang diikat dijadikan satu. Mengenai makna dari canang Saraswati ini, adalah mengandung makna sebagai sarana permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi, agar dianugrahkan kepradnyanan dan kesidhian. (puput)

0 Response to "10 Macam Canang Menurut Agama Hindu"