loading...

Syarat-Syarat sembahyang


SYARAT-SYARAT SEMBAHYANG, Dalam ajaran agama Hindu disebutkan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memperoleh kebahagiaan hidup lahir bathin (Moksartaham Jagadhita). Tujuan hidup ini diperoleh melalui usaha dan kerja keras yang dilandasi oleh Sraddha (keyakinan/keimanan) dan (ketakwaan/bhakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/Sanghyang Widhi Wasa). Ada enam unsur Sraddha yang dapat memberikan keseimbangan hidup di dunia, yakni: pertama, Satya yang merupakan unsur kebenaran dan kejujuran menjadi sifat dan hakekat Tuhan; kedua, Rta merupakan hukum Tuhan yang Bersifat abadi; ketiga, Diksa sebagai alat untuk sampai pada tingkat kesucian diri; keempat, Tapa sebagai upaya mensucikan diri lahir bathin; kelima, Brahma merupakan sthava atau doa pujian untuk mendekatkan diri kepada Tuhan; keenam, Yajna yakni korban suci yang dilaksanakan dengan tulus ikhlas. Salah satu wujud pengamalan Sraddha dalam kehidupan sehari-hari adalah melalui pelaksanaan persembahyangan Panca Yajna.

Ketentuan Umum Bersembahyang
  1. Untuk menghormati dan mengagungkan kebesaran sifat Tuhan Yang Maha Esa, selaku pencipta dan penguasa alam semesta.
  2. Sebagai pengakuan diri bahwa pada hakikatnya manusia adalah mahluk yang sangat lemah.
  3. Sebagai permohonan maaf dan pengampunan atas segala dosa yang pernah dilakukan dalam hidupnya.
  4. Menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas segala waranugraha-Nya.
  5. Memohon perlindungan-Nya agar dijauhkan dari segala bahaya maupun cobaan hidup.
  6. Menemukan suasana kedamaian lahir dan bathin.
Tempat Sembahyang :
Pura adalah tempat sembahyang atau pemujaan kepada Sanghyang Widhi Wasa beserta manifestasi kemahakuasaan-Nya. Menurut fungsinya Pura dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu Pura Kahyangan Umum (Kahyangan Jagat) dan Pura Kahyangan Khusus (Sanggar, Pamerajan, Paibon, Kawitan dan lain-lain).

Macam-macam Persembahyangan :
1. Menurut waktu pelaksanaan.
Nitya Kala, yaitu persebahyangan yang dilaksanakan 3 (tiga) kali sehari disebut Tri Sandhya, dilakukan tanpa memakai sarana yaitu :
  1. Sembahyang pagi hari, pelaksanaannya antara jam. 04.30-06.00 disebut Pratah Savanam.
  2. Sembahyang tengah hari antara jam. 12.00-13.30 disebut Madyadina Savanam.
  3. Sembahyang sore hari antara jam. 18.00-19.30 disebut Sandhya Savanam.
Naimitika Kala, yaitu persembahyangan yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu, terutama hari-hari yang disucikan (dirayakan) dengan mempergunakan sarana dupa/api (Aghni), air (Toyam), buah-buahan (Phalam), bunga (Puspam) dan dedaunan (Patram), antara lain :
  1. Persembahan Deva Yajna: Purnama, Tilem, hari-hari suci keagamaan (Galungan, Kuningan, Sarasvati, Pagervesi, Sivaratri dan Nyepi).
  2. Persembahyangan pada hari-hari raya Nasional.
  3. Persembahyangan khusus yang dilaksanakan oleh perorangan, keluarga atau kelompok masyarakat dengan maksud menyampaikan niat tertentu.
Menurut bentuk pelaksanaannya.
  1. Persembahyangan bersama dengan dipandu puja Sulinggih.
  2. Persembahyangan bersama tanpa dipandu puja Sulinggih.
  3. Presembahyangan perorangan.
Persyaratan lahir (sakala, wahya) :
  1. Bersihkan badan dengan mandi. Boleh juga mandi dengan air kumkuman.
  2. Berpakaian yang bersih dah sopan.
  3. Sarana persembahyangan yang dipakai supaya baik, misalnya : Bunga yang harum dan segar, dupa yang harum serta kwangen.
  4. Tempat persembahyangan yang bersih dan bersuasana tenang.
Persyaratan bathin (niskala, adyatmika) :
  1. Rasa tulus ihklas dalam melaksanakan sembahyang.
  2. Kesadaran bathin yang luhur dan suci sesuai dengan ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu : suci dalam pikiran, suci dalam perkataan, dan suci dalam perbuatan.
  3. Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa/Sanghyang Widhi Wasa secara pasrah dan utuh.
  4. Kesadaran melaksanakan sembahyang agar ditujukan pada jalan dharma, kesucian dan kesejahtraan mahluk serta alam semesta.
  5. Meyakini ajaran Tat Tvam Asi yakni memandang semua mahluk mempunyai hakikat yang sama.
Sikap Sembahyang :
Sikap tangan.
  • Sikap tangan pada waktu Tri Sandhya. Mengambil sikap Devapratistha atau Amusti Karana yaitu kedua ibu jari tangan dipadukan dengan telunjuk tangan kanan (berbentuk “kojong”) atau kedua ibu jari tangan kanan dan kiri dipertemukan/ditempelkan sedangkan jari-jari tangan yang lain saliang bertumpukan diatas ulu hati.
  • Sikap tangan pada waktu melaksanakan kramaning sembah. Sikap tangan pada waktu melaksanakan persembahyangan/kramaning sembah yaitu kedua belah telapak tangan dicakupkan dan diangkat keatas ubun-ubun.
Sikap badan pada waktu sedang sembahyang.
  • Bila memuja dalam sebuah Pura, Sanggar Pamrajan dan sebagainya dilakukan dengan cara duduk. Bagi kaum pria dengan sikap Padmasana (Silasana) sedangkan sedangkan bagi kaum wanita dengan sikap Bajrasana (bersimpuh). Ada lagi sikap-sikap yang lain misalnya bagi yang sakit mengambil sikap Sawasana. Selanjutnya apabila kondisitempat tidak memungkinkan untuk duduk maka dapat dilaksanakan dengan mengambil sikap Padasana (berdiri).
Bertitik tolak dari pengertian sembahyang yang merupakan pemujian kepada Sanghiang Widhi Wasa, dengan segala Prabhawa/manifestasi kemahakuasaan-Nya, yang dilaksanakan penuh ketululusan hati ,maka yajna pun memiliki pengertian yang sama dengan sembahyang. Dengan demikian antara Sembahyang dan Yajna memiliki hubungan yang erat dimana kedua-duanya bertujuan mewujudkan suatu kehidupan yang bahagia dan sejahtera lahir batin  (Moksartham Jagadhita).

Veda mengajarkan 5 (lima) macam Yajna, yang disebut Panca Yajna, yaitu :
  • Deva Yajna adalah korban suci/persembahan suci sebagai perwujudan rasa terima kasih yang disampaikan kepada Sanghiang Widi Wasa dan para Dewa penjaga kosmos dan hukum kehidupan yang diciptakannya dengan tujuan tercapaenya ketentraman dan kesejahteraan lahir batin .
  • Rsi Yajna adalah korban suci/persembahan suci sebagai perwujudan rasa terima kasih kepada para Maharesi penerima Wahyu, kepada para Brahmana, Guru yang telah mengajarkan dan mengembangkan ajaran agama. RsiYajna dapat pula diwujudkan dalam bentuk penyucian diri secara spiritual melalui upacara Pewintenan/Diksa (Inisiasi/ pentahbisan).
Pitra Yajna adalah korban suci kepada para Leluhur dengan tujuan :
  1. Mengembalikan jasadnya kepada lima unsur alam ini yaitu tanah (prtiwi), sinar (teja), udara (bayu), air (apah), dan ether (akasa) melalui upacara “Sawa Wedana”.
  2. Menyucikan roh agar kembali ke asalnya melalui upacara “Atma Wedana”.
  • Manusa Yajna adalah korban suci atau upacara untuk manusia guna meningkatkan kehidupan spiritualnya. Upacara ini dimulai sejak bayi dalam kandungan sampai dewasa dan menjelang mati.
  • Bhuta Yajna, adalah korban suci kepada para Bhuta (mahluk yang lebih rendah dari manusia) agar siklus alam semesta ini tetap harmonis dan ekosistem tetap berjalan dengan semestinya. Korban suci pada upacara Buta Yajna disampaikan dalam bentuk upakara korban yang disebut “Caru”, mulai dari tingkat yang terkecil sampai tingkat yang lebih besar sesuai kepentingannya.

0 Response to "Syarat-Syarat sembahyang"