loading...

Menyusu pada Ibu


Menyusu pada Ibu, Seratus lentera menyala, tapi aku tak melihat orang. Mataku berdusta, pun tak bisa mengenali terang dan gelap. Bukankah aku terbiasa melihat dalam gelap? kini, meski seratus lentera menyala, aku hanya merasakan luka, duka, dan kegelapan.

Seorang ibu sangat hafal pada sebuah kata bernama luka. tidak hanya hafal, seorang ibu terbiasa pada luka, Sekujur tubuh dan jiwanya terluka. Luka yang selalu bisa disembunyikannya melalui tutur lembut, belaian kasih, dan perilaku penuh cinta. Luka-lukanya dibalut harapan sang anak, pelan-pelan sembuh seiring bertumbuhnya impian-impian anak. Obat luka ibu adalah anaknya. setidaknya itu yang saya rasakan ketika membaca ikatan antara Gandhari dan keseratus putranya.

Siapa yang mengerti pahit dalam diri Gandhari, perempuan dengan ketakutan pada kegelapan kemudian menghabiskan hidupnya dalam gelap. Ini pengorbanan tahap pertamanya, memasung diri dalam gelap, memilih bersetia pada kegelapan. Dalam gelap dirinya melihat kejayaan semu, impian masa depan dan harapan-harapan keemasan keturunannya. Maka, pengorbanan berikutnya adalah melawan rasa takut pada gelap itu. Apakah Gandhari terluka?

Melawan rasa takut tidak hanya dirasakan oleh Gandhari saja, rasa yang sama juga dirasakan oleh perempuan lainnya. Ketakutan adalah kegelapan itu sendiri, melawan ketakutan sama seperti melawan kegelapan. Ada rasa di ambang takut-berani, gelap-terang, pada titik ambang inilah manusia pasrah. Gandhari menyerahkan hidupnya dari titik ambang ke titik yang lebih jelas. Sampai pada titik lebih jelas inilah dia hanya merasakan luka, sebab yang dikorbankannya tidak sebanding dengan yang didapatinya. Harapan-harapan kecil hampir padam ketika dirinya hanya melahirkan gumpalan daging yang terbungkus. Babak baru dalam hidupnya dimulai, dengan api sedih, api marah, api kecewa dipujanya semesta. Berharap Shiwa mendengarkan semuanya, api-api pemujaan Gandhari menyala-nyala, untuk pertama kalinya dia melihat dunia sangat terang dalan dirinya. Dunia itu bernama anak.

Setiap anak adalah kisah dari ibunya. Gandhari melihat anak dengan mata, namun dengan hati. Melihat terang dalam gelap dengan hati. Merasakan cinta dan impian-impiannya yang senantiasa tumbuh bersama keseratus anaknya. Pola cinta Gandhari pada anaknya mulai jarang ditemukan. Ibu-inu muda sekarang cenderung senang dengan visual. Anak-anak mereka tumbuh menjadi yang ingin dilihat ibunya. Anak-anak kehilangan dunianya, mereka langsung menjadi dewasa. Jarang para ibu merasakan dengan hati yang dirasakan si anak, dipikirannya semua bisa diselesaikan dengan materi dan visual. Bayangkan saja, keseratus anak Gandhari yang tersentuh dengan hati masih mengalami degredasi moral, apalagi anak-anak sekarang yang hanya disentuh visual. Apa yang terjadi?

Kembali pada hakikat ibu, menyusu sepanjang waktu. Tanpa lelah berharap. Tanpa meninggalkan luka. Tanpa mengabaikan rasa. "Ibu, aku memujamu"

0 Response to "Menyusu pada Ibu"