loading...

Kaharingan Memandang Ibu; Eternally Divine Love


Kaharingan Memandang Ibu; Eternally Divine Love, Tiap kali mendengar kata "Ibu", akan terbesit di benak setiap orang sosok seorang perempuan yang melahirkan, membesarkan dan merawat anak-anaknya. Di berbagai belahan dunia, ibu atau indu (bahasa dayak) diidentikan pula dengan sosok anggun, lemah lembut, dan penuh kasih sayang. Demikian pula dalam ajaran hindu, wujud ibu digambarkan memiliki kasih sebanding dengan Tuhan. Serupa dengan paham Hindu pada umumnya, umat Hindu Kaharingan Suku Dayak meyakini berbagai rupa ibu dengan berbagai nama yang mendeskripsikan wujud dan karakteristiknya.

Dimulai pada awal keberadaan semsta, Jatha Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan sebagai ibu yang pertama, disebutkan dalam Kitab Panaturan adalah bayangan Ranying Hatalla/Tuhan yang muncul pertama kali setelahnya. Kemudian dengan keberadaannya, Ranying Hatalla menjadi lengkap dan menciptakan semua yang ada untuk memenuhi alam semesta raya. Rupa ibu sebagai jatha balawang bulau tersebut dianalogikan sebagai wujud ibu sebagai awal segala yang ada. Keberadaannya yang utama sebagai pendamping dan pemberi keturunan yang kelak menjadi penerus generasi umat manusia. Namun, secara holistik "sang ibu" pemberi kehidupan tersebut bagai Kaharingan juga adalah alam semesta itu sendiri yang menjadi sumber kehidupan tanpa batas bagai semua makhluk. Kedudukannya yang disejajarkan dengan Ranying Hatalla menyiratkan bahwa sesungguhnya keutamaan alam semesta, bumi serta segala kekayaannya adalah serupa Tuhan yang sepatutnya dihormati dan dijaga kelangsungannya.

Selanjutnya, ibu sebagai pembawa keberuntungan dikenal dengan Bawi Kameluh Sintung Uju atau puteri Tujuh. Dimana pada setiap ritual, ketujuh nama mereka disebutkan sebagai perantara doa-doa dan permohonan anugerah dan berkah Ranying Hatalla pada umat manusia. Paham demikian tentu sangat relevan dengan konteks kekinian, pada dimensi sekala perempuan atau ibu menempati peran penting dalam keluarga. Sudah menjadi rahasia umum, ibu yang cermat akan membawa keberuntungan dan kesejahteraan bagi keluarganya. Sehingga kasih Tuhan hadir dalam ketulusan tanpa batas dari seorang ibu.

Posisi ibu yang tidak kalah penting juga dikenal dengan sosok Bawin Balian. Sependapat dengan slogan "guru yang pertama adalah ibu", Bawin Balian bagi umat hindu Kaharingan adalah simbol ibu sebagai guru yang utama. Dikisahkan bahwa Bawin Balian adalah perempuan pertama yang menerima ajaran ritual keagamaan dan tata cara kehidupan. Misi Bawin Balian selanjutnya adalah menurunkan ajaran-ajaran tersebut demi kehidupan umat manusia yang lebih baik. Sehingga, sudah selayaknya setiap orang khususnya perempuan menyadari keutamaan dan kemuliaannya sebagai ibu dan calon-calon ibu di masa depan. Bahkan pada dimensi makro dan mikro kosmis, peran ibu tidak tergantikan. Kehormatan dan cinta kasihnya merupakan penyeimbang guna tercapainya keharmonisan semesta raya. Patutlah apabila disimpulkan, ibu adalah cinta tuhan yang abadi, eternally divine love, karena, keberadaannya membawa kedamaian dan kehidupan sebagaimana wujud dari kasih Ranying Hatalla yang hadir dalam wujud alam semesta tempat semua makhluk meminta makan dan kehidupan, hingga wujud ibu sekala yang merawat dan menjaga kehidupan keluarganya.

Sumber : Kunti Ayu Vedanti

0 Response to "Kaharingan Memandang Ibu; Eternally Divine Love"